BKKBN

Jumat, 17 Juni 2016

MENJADIKAN TRANSMIGRAN SEBAGAI IDENTITAS BARU INDONESIA

          Berbicara mengenai masalah kependudukan memang tiada habisnya. Topik ini seolah menjadi tugas tiada akhir pemerintah pusat maupun daerah. Ketidakmerataan pembangunan infrastruktur adalah salah satu penyebabnya. Pembangunan infrastruktur di pulau Jawa yang sangat pesat membuat para perantau menjadikannya sebagai target bertransmigrasi.
Pemerintah memang tidak tinggal diam, melalui lembaga BKKBN,  sudah banyak program kerja yang dicanangkan untuk menekan angka pertambahan penduduk seperti program Genre dan Keluarga Berencana.
         Luas wilayah negara Indonesia yang mencapai angka 5.193.250 km²  bukanlah tempat yang sempit untuk menampung populasi masyarakat sebanyak 237.641.326 jiwa. Dengan ketentuan persebaran penduduk merata disetiap pulau, provinsi, sampai desa. Namun yang menjadi masalah adalah angka pertumbuhan penduduk dan harapan hidup yang tinggi justru terjadi di provinsi yang padat penduduk seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.
       Lain halnya dengan provinsi Kalimantan Tengah, daerah ini adalah provinsi terluas ketiga setelah provinsi Papua dan provinsi Kalimantan Timur namun jumlah penduduknya masih disekitar 2.212.089 jiwa.
Seandainya pemerintah memiliki perencanaan yang serius dengan menjadikan Kalimantan Tengah dan daerah lainnya sebagai daerah tujuan transmigrasi maka pertumbuhan penduduk di Indonesia cepat atau lambat akan merata.
        Mengesampingkan program Genre dan Keluarga Berencana untuk mengutamakan percepatan transmigrasi seperti Program Operasi Nasional Agraria (Prona), adalah salah satu cara efektif bagi BKKKN untuk menekan angka pertambahan penduduk.
    Alasan logis saya mengajukan Kalimantan Tengah untuk dijadikan lokasi pemukiman bagi transmigran selain karena luas wilayah dan penduduk yang masih terbilang sedikit adalah tidak lepas dari berbagai faktor seperti, tingkat toleransi umat beragama yang dijunjung tinggi, tatanan kota yang baik dan ancaman bencana alam yang tidak terlalu serius.

GKE Efrata bersampingan dengan Masjid Al Gufron

GKE Nasaret dengan masjid bersampingan dengan Masjid Al Fikri

Berikut penjelasannya:
1.     Toleransi Umat Beragama
   Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November 2015 yang lalu, Setara Institute mengeluarkan hasil penelitiannya tentang Indeks Kota Toleran. Hasilnya ibukota Kalimantan Tengah yaitu kota Palangkaraya termasuk dalam 10 kota paling toleran di Indonesia.
Menurut saya apabila program transmigrasi diberlakukan, Kalimantan Tengah tidak akan memandang agama para tranmigran. Hal ini sudah saya saksikan secara langsung dengan melihat banyaknya bangunan Masjid berdampingan berdiri kokoh dengan bangunan Gereja.


2.     Tatanan Kota yang Baik
        Banyak orang yang tidak tahu bahwa Bung Karno adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik, beliau sendiri sudah mendesain banyak wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya.
    Ir.Soekarno, semasa hidupnya pernah merencanakan agar kota Palangkaraya dijadikan sebagai ibukota negara Republik Indonesia. Bukan tanpa alasan, dengan desain jalan raya yang saling terhubung tentunya akan memudahkan banyak pihak dalam menggunakan transportasi darat.
Apabila program transmigrasi di Kalimantan Tengah berhasil dilaksanakan, bukan tidak mungkin kota palangkaraya akan memiliki sarana transportasi massal seperti di negara maju.

Kota Palangkaraya
   Demikianlah masukan yang mungkin dapat dijadikan BKKBN dan dinas kependudukan sebagai rujukan untuk meratakan angka persebaran penduduk yang nantinya akan berpeluang besar menerapkan program keluarga berencana bagi transmigran secara optimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar