MAKALAH PENGANTAR
SOSIOLOGI
“STRATIFIKASI
SOSIAL”
DOSEN PENGAMPU
: EVI NURLENI, M.Si

DISUSUN
OLEH
PALTY
Z. SIBARANI (GAB
114 056)
UNIVERSITAS
PALANGKA RAYA
FAKULTAS ILMU
SOSIAL DA ILMU POLITIK
ILMU
ADMINISTRASI NEGARA (B)
ANGKATAN
2014/2015
KATA PENGANTAR
Tugas ini
diharapkan mampu membantu kami dalam memperdalam mata pelajaran Pengantar
Sosiologi dalam kegiatan belajar. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Tugas ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak
kekurangan-kekurangan dalam penulisan. Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan Tugas ini sangat kami harapkan. Mudah-mudahan Tugas
ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Akhir
kata, kami ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah berkenan membaca
tugas ini dengan tulus ikhlas. Semoga Tugas ini dapat bermanfaat, khususnya
bagi kami dan pembaca. Amin
Palangka
Raya, 13 Desember 2015
(PENULIS)
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
............................................................................... i
DAFTAR
ISI
.............................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
........................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah
...................................................................... 2
1.3
Maksud dan Tujuan
................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Stratifikasi Sosial .................................................... 3
2.2 Sifat-sifat Stratifikasi Sosial
...................................................... 4
2.3 Sebab-Sebab Terjadinya Stratifikasi Sosial
............................ 4
2.4 Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial
....................................... 5
2.5 Fungsi Stratifikasi Sosial ........................................................... 5
2.6 Dampak Positif & Negatif Stratifikasi
Sosial .......................... 7
2.7 Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial ............................................ 8
2.8 Ukuran Sebagai Dasar Pembentuk
Stratifikasi Sosial ............ 11
2.9 Contoh-Contoh Stratifikasi Sosial .............................................
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
................................................................................. 13
3.2 Kritik dan Saran
......................................................................... 14
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Masyarakat dengan segala aspek yang cakupan
didalamnya merupakan suatu objek kajian yang menarik untuk diteliti. Begitu
pula dengan sesuatu yang dihargai oleh masyarakat tertentu. Dengan kata lain,
sesuatu yang dihargai dalam sebuah komunitas masyarakat akan menciptakan
perbedaan lapisan atau kedudukan seseorang tersebut didalam masyarakat.
Pada
kajian yang dibahas dalam makalah ini yaitu Stratifikasi Sosial yang terjadi
antara masyarakat kuno dan modern, kita akan dapat menemukan perbedaan yang
terjadi didalamnya, menarik sebuah kesimpulan yang terjadi akibat stratifikasi
sosial. Secara umum, dapat kita pahami bahwa stratifikasi sosial yang terjadi
pada zaman kuno da zaman modern adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari yaitu
membutuhkan sebuah kajian yang berguna untuk menindak lanjuti dampak-dampak
yang berasal dari stratifikasi sosial dalam masyarakat.
Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan terhadap
hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih
tinggi terhadap hal-hal tertentu akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan
yang lebih tinggi. Jika suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan material
daripada kehormatan maka mereka lebih banyak mempunyai kekayaan material dan
menempati kedudukan yang lebih tinggi. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat, yang
merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang
berbeda-beda secara vertikal.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian dari
stratifikasi sosial ?
2.
Apa saja sifat-sifat
stratifikasi sosial ?
3.
Apa sebab-sebab
terjadinya stratifikasi sosial ?
4.
Bagaimana proses
terjadinya stratifikasi sosial ?
5.
Apa saja fungsi
stratifikasi sosial ?
6.
Apa dampak dari
stratifikasi sosial ?
7.
Bagaimana bentuk-bentuk
stratifikasi sosial ?
8.
Apa ukuran dasar
pembentukan stratifikasi sosial ?
9.
Apa saja contoh-contoh
dari stratifikasi sosial ?
1.3
MAKSUD
DAN TUJUAN PENULISAN
1.
Mengetahui pengertian dari
stratifikasi sosial
2.
Agar mahasiswa memahami
proses terjadinya stratifikasi sosial
3.
Mengetahui dampak-dampak
stratifikasi sosial
4.
Mengetahui bentuk-bentuk
stratifikasi sosial
5.
Agar menjadi salahsatu bahan
pembelajaran mata kuliah pengantar sosiologi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN STRATIFIKASI SOSIAL
Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa
latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti lapisan. Dalam
Sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau
masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Beberapa defenisi
Stratifikasi Sosial menurut para ahli:
A)
PITIRIM A. SOROKIN
Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai
perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara
bertingkat (hierarki). Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan
kelas-kelas yang lebih rendah. Dasar dan inti dari lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak
adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, dan
tanggung-jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya diantara anggota masyarakat.
B)
MAX WEBER
Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai
penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke
dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan
prestise.
C)
CUBER
Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai
suatu pola yang ditempatkan di atas kategori dari hak-hak
yang berbeda
D)
Drs. ROBERT. M.Z. LAWANG
Sosial Stratification adalah penggolongan
orang-orang yang termasuk dalam suatu system social tertentu ke dalam
lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese, dan prestise.
Pemahaman antara stratifikasi sosial dan kelas sosial sering kali di
samakan, padahal di sisi lain pengertian antara stratifikasi sosial dan kelas
sosial terdapat perbedaan. Stratifikasi sosial lebih merujuk pada pengelompokan
orang ke dalam tingkatan
atau strata dalam heirarki secara vertical. Membicarakan stratifikasi sosial
berarti mengkaji posisi atau kedudukan antar orang/sekelompok orang dalam
keadaan yang tidak sederajat.
Adapun pengertian kelas sosial sebenarnya berada dalam ruang lingkup
kajian yang lebih sempit, artinya kelas sosial lebih merujuk pada satu lapisan
atau strata tertentu dalam sebuah stratifikasi sosial. Kelas sosial cenderung
diartikan sebagai kelompok yang anggota-anggota memiliki orientasi polititik,
nilai budaya, sikap dan prilaku sosial yang secara umum sama.
Dengan demikian, dapat kami simpulkan bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan masyarakat atau
penduduk berdasarkan kelas-kelas yang telah ditentukan secara bertingkat
berdasarkan dimensi kekuasaan, previllege (hak istimewa atau kehormatan) dan
prestise (wibawa). Stratifikasi
sosial terjadi karena ada sesuatu yang dihargai dalam masyarakat, misalnya:
harta, kekayaan, ilmu pengetahuan, kesalehan, keturunan dan lain sebagainya.
Stratifikasi sosial akan selalu ada selama dalam masyarakat terdapat sesuatu
yang dihargai.
2.2 SIFAT-SIFAT STRATIFIKASI SOSIAL
A) STRATIFIKASI SOSIAL TERTUTUP (CLOSE SOCIAL
STRATIFICATION)
Sistem stratifikasi sosial tertutup ini
membatasi atau tidak memberi kemungkinan seseorang untuk pindah dari suatu
lapisan ke lapisan sosial yang lainnya, baik ke atas maupun ke bawah. Dalam
sistem ini, satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota dari suatu strata
tertentu dalam masyarakat adalah dengan kriteria kelahiran.
Salah
satu contoh sistem stratifikasi sosial tertutup adalah sistem kasta pada
masyarakat Bali. Di Bali, seseorang yang sudah menempati kasta tertentu sangat
sulit, bahkan tidak bisa pindah ke kasta yang lain. Seorang anggota kasta
teratas sangat sulit untuk pindah ke kasta yang ada di bawahnya, kecuali ada
pelanggaran berat yang dilakukan oleh anggota tersebut.
B) STRATIFIKASI
SOSIAL TERBUKA (OPEN SOCIAL STRATIFICATION)
Sistem stratifikasi sosial terbuka ini memberi kemungkinan
kepada seseorang untuk pindah dari lapisan satu ke lapisan yang lainnya, baik
ke atas maupun ke bawah sesuai dengan kecakapan, perjuangan, maupun usaha
lainnya. Atau bagi mereka yang tidak beruntung akan jatuh dari lapisan atas ke
lapisan di bawahnya. Pada sistem ini justru akan memberikan rangsangan yang
lebih besar kepada setiap anggota masyarakat, untuk dijadikan landasan
pembangunan dari sistem yang tertutup.
C) STRATIFIKASI
SOSIAL CAMPURANn
Stratifikasi sosial campuran
merupakan kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya,seorang
Bali berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia
pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus
menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.
2.3 SEBAB-SEBAB TERJADINYA STRATIFIKASI SOSIAL
Setiap
masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai, bisa berupa kepandaian, kekayaan,
kekuasaan, profesi, keaslian keanggotaan masyarakat dan sebagainya. Selama
manusia membeda-bedakan penghargaan terhadap sesuatu yang dimiliki tersebut,
pasti akan menimbulkan lapisan-lapisan dalam masyarakat. Semakin banyak
kepemilikan, kecakapan masyarakat/seseorang terhadap sesuatu yang dihargai,
semakin tinggi kedudukan atau lapisannya.
Sebaliknya
bagi mereka yang hanya mempunyai sedikit atau bahkan tidak memiliki sama
sekali, maka mereka mempunyai kedudukan dan lapisan yang rendah.
Seseorang yang mempunyai tugas sebagai pejabat/ketua atau pemimpin pasti menempati lapisan yang tinggi daripada sebagai anggota masyarakat yang tidak mempunyai tugas apa-apa. Karena penghargaan terhadap jasa atau pengabdiannya seseorang bisa pula ditempatkan pada posisi yang tinggi, misalnya pahlawan, pelopor, penemu, dan sebagainya. Dapat juga karena keahlian dan ketrampilan seseorang dalam pekerjaan tertentu dia menduduki posisi tinggi jika dibandingkan dengan pekerja yang tidak mempunyai ketrampilan apapun.
Seseorang yang mempunyai tugas sebagai pejabat/ketua atau pemimpin pasti menempati lapisan yang tinggi daripada sebagai anggota masyarakat yang tidak mempunyai tugas apa-apa. Karena penghargaan terhadap jasa atau pengabdiannya seseorang bisa pula ditempatkan pada posisi yang tinggi, misalnya pahlawan, pelopor, penemu, dan sebagainya. Dapat juga karena keahlian dan ketrampilan seseorang dalam pekerjaan tertentu dia menduduki posisi tinggi jika dibandingkan dengan pekerja yang tidak mempunyai ketrampilan apapun.
2.4 PROSES TERJADINYA STRATIFIKASI SOSIAL
Stratifikasi
sosial terjadi melalui proses sebagai berikut :
A)
Terjadinya secara otomatis, karena
faktor-faktor yang dibawa individu sejak lahir. Misalnya, kepandaian, usia,
jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan seseorang dalam
masyarakat.
B)
Terjadi dengan sengaja untuk tujuan
bersama dilakukan dalam pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam
organisasi-organisasi formal atau kelompok-kelompoknya seperti : pemerintahan,
partai politik, perusahaan, perkumpulan, angkatan bersenjata.
2.5 FUNGSI STRATIFIKASI SOSIAL
Stratifikasi
Sosial memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
A) Stratifikasi sosial menyusun
alat bagi masyarakat dalam mencapai beberapa tugas utama. Hal ini dilaksanakan
dengan mendistribusikan prestise maupun privelese (hak yang dimiliki seseorang
karena kedudukannya dalam sebuah strata). Setiap strata ditandai dengan pangkat
atau simbol-simbol yang nyata yang menunjukkan rangking, peranan khusus, dan
standar tingkah laku dalam kehidupan.
B) Stratifikasi sosial menyusun,
mengatur, serta mengawasi saling hubungan di antara anggota masyarakat.
Peranan, norma, dan standar tingkah laku dilibatkan dan diperhatikan dalam
setiap hubungan di antara strata yang ada di dalam masyarakat.
C) Stratifikasi sosial memiliki
kontribusi sebagai pemersatu dengan mengoordinasikan serta mengharmonisasikan
unit-unit yang ada dalam struktur sosial itu.
D) Stratifikasi sosial
mengategorikan manusia dalam stratum yang berbeda, sehingga dapat
menyederhanakan dunia manusia dalam konteks saling berhubungan di antara
mereka.
Hal
ini disebabkan para anggota tidak saling mengenal, sehingga sulit untuk menetapkan
aturan tingkah laku mana yang akan digunakan dalam berhubungan dengan orang
lain. Dengan adanya stratifikasi, kesulitan ini relatif dapat diatasi.
2.6 DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF STRATIFIKASI
SOSIAL
1) DAMPAK POSITIF STRATIFIKASI SOSIAL
Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena
adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau
bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Contoh : Seorang
anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa
depan.
2) DAMPAK NEGATIF STRATIFIKASI SOSIAL
Ada tiga dampak negatif stratifikasi
social yaitu :
A)
Konflik antar kelas
Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran
seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan
tadi disebut kelas-kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara
kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan
muncul konflik antar kelas.
Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
B)
Konflik antar kelompok sosial
Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di
antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku,dan ras.
Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi
pemaksaan, maka timbul konflik. Contoh: tawuran pelajar.
C)
Konflik antargenerasi
Konflik
antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama
dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan. Contoh: Pergaulan bebas
yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan
dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
2.7 BENTUK-BENTUK STRATIFIKASI SOSIAL
Dalam masyarakat terdapat berbagai bentuk
stratifikasi sosial. Bentuk itu akan dipengaruhi oleh kriteria atau faktor apa
yang dijadikan dasar. Berikut ini akan kita pelajari beberapa bentuk
stratifikasi sosial menurut beberapa kriteria, yaitu ekonomi, sosial, dan
politik.
A)
STRATIFIKASI SOSIAL BERDASARKAN KRITERIA EKONOMI
Stratifikasi sosial dalam bidang ekonomi akan
membedakan penduduk atau warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan
materi. Dalam hal ini ada golongan orang-orang yang didasarkan pada pemilikan
tanah, serta ada yang didasarkan pada kegiatannya di bidang ekonomi dengan
menggunakan kecakapan.
Dengan kata lain, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam berbagai lapisan
atau kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Menurut Max Webber, stratifikasi
sosial berdasarkan criteria ekonomi membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas
yang didasarkan pada pemilikan tanah dan benda-benda. Kelas-kelas tersebut
adalah kelas atas (upper class), kelas menegah (middle class), dan kelas bawah
(lower class).
Satu hal yang perlu diingat bahwa stratifikasi sosial
berdasarkan kriteria ekonomi ini bersifat terbuka. Artinya memungkinkan
seseorang yang berada pada kelas bawah untuk naik ke kelas atas, dan sebaliknya
memungkinkan seseorang yang berada pada kelas atas untuk turun ke kelas bawah
atau kelas yang lebih rendah. Tergantung orang tersebut.
B)
STRATIFIKASI SOSIAL BERDASARKAN KRITERIA SOSIAL
Pada umumnya, stratifikasi sosial berdasarkan kriteria ini
bersifat tertutup. Stratifikasi sosial demikian umumnya terdapat dalam
masyarakat feodal, masyarakat kasta, dan masyarakat rasial.
1)
Stratifikasi Sosial pada Masyarakat Feodal
Masyarakat feodal merupakan masyarakat pada situasi
praindustri, yang menurut sejarahnya merupakan perubahan dari ikatan pesuruh
dengan tuan tanah. Hubungan antara kedua golongan itu menjadi hubungan antara
yang memerintah dengan yang diperintah, dan interaksinya sangat terbatas. Terdiri
dari keturunan raja dan ningrat, golongan prajurit dan pegawai pemerintahan dan
golongan rakyat biasa.
2) Stratifikasi Sosial pada Masyarakat Kasta
Masyarakat kasta menuntut pembedaan antar golongan yang
lebih tegas lagi. Hubungan antargolongan adalah tertutup. Berdasarkan uraian di atas dapat
diidentifikasikan bahwa ciri-ciri kasta adalah sebagai berikut : keanggotaan
berdasarkan kewarisan atau kelahiran. Dalam kasta, kualitas seseorang tidak
menjadi sebuah perhitungan, Hubungan antarkasta dengan kelompok sosial lainnya
sangat terbatas. Di Indonesia, stratifikasi sosial berdasarkan kasta dapat kita
jumpai pada masyarakat Bali. Yaitu Brahmana merupakan tingkatan kasta tertinggi
di Bali. Biasanya diduduki oleh pemuka agama.
3)
Stratifikas Sosial pada Masyarakat Rasial
Masyarakat rasial adalah masyarakat yang mengenal perbedaan
warna kulit. Sistem stratifikasi ini pernah terjadi di Afrika Selatan, di mana
ras kulit putih lebih unggul jika dibandingkan dengan ras kulit hitam. Perbedaan
warna kulit di Afrika Selatan pada waktu itu memengaruhi berbagai bidang
kehidupan yang kemudian disebut dengan politik apartheid.
C)
STRATIFIKASI SOSIAL BERDASARKAN KRITERIA POLITIK
Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria politik
berhubungan dengan kekuasaan yang dimiliki oleh anggota masyarakat, di mana ada
pihak yang dikuasai, dan ada pihak yang menguasai. Bentuk-bentuk kekuasaan pada
masyarakat tertentu di dunia ini beraneka ragam dengan polanya masing-masing.
Tetapi, pada umumnya ada satu pola umum yang ada dalam setiap masyarakat.
2.8
UKURAN SEBAGAI DASAR
PEMBENTUKAN STRATIFIKASI SOSIAL
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan
stratifikasi social adalah ukuran kekayaan, kekuasaan dan wewenang, kehormatan,
serta ilmu pengetahuan.
A)
Ukuran kekayaan
Adalah kepemilikan harta benda seseorang dilihat dari jumlah dan materiil
saja. Biasanya orang yang memiliki harta dalam jumlah yang besar akan menempati
posisi teratas dalam penggolongan masyarakat berdasarkan kriteria ini.
B)
Ukuran kekuasaan dan
wewenang
Adalah kepemilikan kekuatan atau power seseorang dalam mengatur dan
menguasai sumber produksi atau pemerintahan. Biasanya ukuran ini dikaitkan dengan
kedudukan atau status sosial seseorang dalam bidang politik.
C)
Ukuran kehormatan
Dapat diukur dari gelar kebangsawanan atau dapat pula diukur dari sisi
kekayaan materiil. Orang yang mempunyai gelar kebangsawanan yang menyertai
namanya, seperti raden, raden mas, atau raden ajeng akan menduduki strata
teratas dalam masyarakat.
D)
Ukuran ilmu pengetahuan
Artinya ukuran kepemilikan seseorang atau
penguasaan seseorang dalam hal ilmu pengetahuan. Kriteria ini dapat pula
disebut sebagai ukuran kepandaian dalam kualitas. Berdasarkan ukuran ini, orang
yang berpendidikan tinggi, misalnya seorang sarjana akan menempati posisi
teratas dalam stratifikasi sosial di masyarakat
FAKTOR PENDORONG TERCIPTANYA STRATIFIKASI SOSIAL
Beberapa kondisi umum
yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat adalah sebagai berikut.
A)
Perbedaan ras dan
budaya. Ketidaksamaan ciri biologis, seperti warna kulit, latar belakang etnis,
dan budaya telah mengarah pada lahirnya stratifikasi dalam masyarakat. Dalam
hal ini biasanya akan terjadi penguasaan grup yang satu terhadap grup yang
lain.
B)
Pembagian tugas dalam
hampir semua masyarakat menunjukkan sistem pembagian tugas yang bersifat
spesialisasi. Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan
fungsi stratifikasi dan kekuasaan dari order sosial yang muncul.
C)
Kejarangan. Stratifikasi
lambat laun terjadi, karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka.
Kelangkaan ini terasa apabila masyarakat mulai membedakan posisi, alatalat
kekuasaan, dan fungsi-fungsi yang ada dalam waktu yang sama. Jadi, suatu
kondisi yang mengandung perbedaan hak dan kesempatan di antara para anggota
dapat menciptakan stratifikasi.
2.9
CONTOH-CONTOH STRATIFIKASI SOSIAL
1)
Berdasarkan kekayaan
a.
Orang kaya
b.
Orang miskin
2)
Kekuasaan
a.
Presiden
b.
Gubernur
c.
Rakyat
3)
Kehormatan
a.
Orang yang banyak
jasanya
b.
Orang biasa
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari uraian-uraian yang
telah dipaparkan diatas, maka dapat
saya simpulkan bahwa Stratifikasi sosial adalah adanya lapisan-lapisan, penggolongan-penggolongan,
pengelompokkan-pengelompokkan dalam masyarakat, karena adanya perbedaan
kriteria/ukuran tertentu yang menjadi dasar terjadinya stratifikasi sosial.
Terjadinya stratifikasi sosial itu lebih banyak tidak
sengaja dibentuk oleh individu-individu yang bersangkutan, akan tetapi timbul
dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, namun kendatinya ada
juga yang sengaja dibentuk. Stratifikasi
sosial akan menimbulkan kelas sosial, dimana setiap anggota masyarakat akan
menempati kelas sosial sesuai dengan kriteri yang mereka miliki.
3.2 SARAN
1) Stratifikasi sosial bukan halangan bagi kita untuk menjadi lebih baik.
Maka sifat optimis dan merasa cukup dalam hal ini diperlukan
2) Tidak ada masyarakat tanpa stratifikasi sosial, maka optimalisasi peran
adalah yang terbaik
DAFTAR PUSTAKA
Setiadi Elly M. Dan Kolip Usman,
Pengantar Sosiologi (Jakarta:
Kencana, 2011)
Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Cetakan Ke Empat Puluh Empat,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012)
Dr. Ravik Karsidi. Sosiologi Pendidikan. (Surakarta, UNS press, 2007) Hal. 175-177
Maftuh, bunyamin dan yadi
ruyadi. 1996. Sosiologi 2 untuk SMA. Bandung: Ganeca Exact.
Http:// sosionamche.
Blogspot. Com.
Http:// zuryawanisvandiar.
Blogspot. Com.
LAMPIRAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar